BANDUNG – Pada dekade 1990-an, nama Haji Geyot sempat begitu populer di Kota Bandung. Tubuh bongsornya selalu menyertai kehikmatan Ramadan masyarakat Kota Kembang menjelang waktu berbuka.
Haji Geyot bukanlah manusia. Dia adalah boneka laki-laki raksasa berbusana muslim lengkap dengan peci dan sarung. Berpinggul lincah yang bergerak meliuk sembari memukul beduk adalah keunikan Haji Geyot.
Sayangnya, kini sosok haji Geyot ini mulai dilupakan. Teknologi menggerus popularitasnya. Masyarakat lebih nyaman menghabiskan waktu dengan berselancar bersama gawai ketimbang menyaksikan penampilan Haji Geyot di pusat kota.
Kendati tak lagi popular, bukan berarti masyarakat Kota Bandung tidak bisa sama sekali menemukan keberadaan Haji Geyot di zaman kiwari. Warisan hasil akulturasi elemen-elemen Islam yang berbaur dengan kebudayaan lokal ini berkeliling di beberapa lokasi di Kota kembang pada Ramadan tahun ini.













