Garut, BEDAnews
Keinginan panitia kongres independen agar bupati mengambil dua nama dari tujuh nama yang direkomendasikan sebagai bakal calon wakil bupati Garut, ditanggapi dingin bupati Garut Aceng HM Fikri.
"Saya ingin Tanya, apakah kongres Independen itu ada undang- undangnya, jangan berbuat sesuatu yang dalam UU menyebutkan tidak harus seperti itu, hargai dong UU 32/2008 yang mengisyaratkan disitu ada yang namanya hak/ kewenangan atributif seorang bupati sebagai kepala daerah, itu artinya tidak bisa diintervensi oleh siapapun," tegas bupati Garut Aceng HM Fikri saat diwawancarai usai pembukaan SPKS dan O2SN di lapang Kerkhof, Selasa (03/04).
Dirinya tidak memandang apakah calon itu dari parpol ataupun non parpol, karena UU tidak mengisyaratkan itu harus parpol atau non parpol. Jadi tidak ada dikhotomi antara parpol dan non parpol, yang penting siapapun ketika diusulkan itu tidak mewakili refresentasi parpol atau non parpol.
Tekait dengan tatib yang telah disahkan dan panitia pemilih (Panlih) yang telah terbentuk, bupati meminta waktu tanggal 15 April s/d 20 April untuk menyerahkan dua nama cawabup kepada panlih DPRD.
Menanggapi pernyataan bupati Aceng Fikri, ketua panitia kongres, Ishak Anshori atau yang akrab dipanggil Ceng Aaf menuturkan bahwa dasar hukum kongres memang tidak ada, namun dasarnya adalah kejujuran dan kesadaran Aceng Fikri yang muncul dan kemudian besar seperti sekarang adalah dari jalur independen, bukan dari partai manapun, katanya.
Sementara itu Deden BIMA, tokoh sentral dibelakang suksesnya Aceng HM Fikri menjadi Bupati dari jalur Independen menjelaskan, memang betul kongres Independen itu tidak ada dasar, tetapi pengajuan kedua nama hasil kongres itu harus dilihat sebagai bentuk ekpresi masyarakat yang peduli terhadap proses politik yang terjadi hari ini di kabupaten Garut yang notabene kepala daerahnya dari Independen.
Sehingga lanjutnya hal tersebut jangan diartikulasikan sebagai bentuk intervensi, namun harus dilihat sebagai bentuk aspirasi yang semestinya mendapat apresiasi dari Bupati Garut, yang pada dasarnya kemenangannya adalah kemenangan politik independen. (Yuyus)











