Garut, BEDAnews
KPH Perhutani Garut mencatat seluas 3.000 hektare lahan tersebar di Kabupaten Garut, Jawa Barat, rawan longsor karena ditanami jenis sayur-sayuran. "Kisaran ada 3.000 hektare lahan yang ditanam tamanan bukan seharusnya tapi tanaman musiman," kata Kepala Urusan Hukum Agraria, dan Kehumasan, Perhutani Garut, Jaenal Abidin, saat ditemui BEdanews.com Jumat (26/4).
Ia mengatakan, lahan Perhutani dalam ancaman longsor terdapat di kawasan bekas letusan gunung berapi dengan kemiringan lereng diatas 25 derajat. Sehingga, Masyarakat yang masih bertahan menanam jenis sayuran itu, kata Jaenal, di antaranya daerah Bayongbong, Pasirwangi, Kamojang, Cisurupan dan Cikuray serta sejumlah daerah lainnya wilayah Garut selatan.
"Lahan dengan kemiringan diatas 25 derajat itu tidak boleh digarap dengan tanaman sayur-sayuran karena bisa longsor," kata Jaenal. Ia menjelaskan, lahan 3.000 hektare itu seharusnya ditanami tanaman tahunan seperti buah-buahan atau kopi.
Perhutani, kata Jaenal, sudah mensosialisasikan dan mengajak masyarakat melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) untuk beralih tanam bukan jenis sayur-sayuran. "Pembinaan, pengarahan sudah dilakukan dengan kelembagaan yaitu LMDH agar kawasan hutan itu jangan ditanami sayuran," katanya.
Ia berharap, ada kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengajak masyarakat sekitar hutan agar mau beralih tanam ke kopi atau tanaman hutan lainnya yang memiliki nilai ekonomis.
Jika masyarakat terus mempertahankan pola tanam jenis sayuran, Jaenal khawatir bencana longsor sewaktu-waktu terjadi seperti di kawasan Puncak Lancang, Kamojang, Kecamatan Samarang, menimbun tiga orang petani saat berkebun di lereng.
Agar bencana longsor tidak terjadi kembali didaerah lainnya di Garut, Jaenal berharap masyarakat mau beralih tanam pada tanaman yang mampu mencegah terjadinya longsor. "Seperti beralih ke kopi ini bukan suatu pembenaran, tapi bisa memberikan dampak mencegah terjadinya bencana seperti longsor," katanya.(Sighar)











