Bandung, BEDAnews
Penyalahgunaan narkoba dan penyebarannya di Jawa Barat sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Berdasarkan perkiraan Badan Narkotika Nasional (BNN), sekira 2.2 persen penduduk Jawa Barat usia produktif menjadi pengguna narkoba.
“Meski diancam dengan hukuman berat, namun pengguna narkoba tetap tak pernah berkurang,” ujar Yappy Manafe, Deputi Pencegahan BNN, Rabu (10/4) di Bandung.
Yappi menambahkan, bahaya narkoba jelas-jelas telah mengancam kehidupan generasi muda. “Seperti misalnya kasus Afriyani, pengemudi Avanza yang menabrak belasa orang di Menteng, itu akibat ia mengonsumsi narkoba,” kata Yappy.
Di tahun 2013, jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai angka 3,8 juta, meningkat dari tahun 2012 yang berjumlah 3,6 juta. “Upaya kita adalah menekan angka pengguna narkoba jangan sampai melebih angka 2,8 persen dari jumlah seluruh penduduk,” ujar Yappi lagi.
Menurutnya, di seluruh negara di dunia peredaran dan penyalahgunaan narkoba selalu ada dan tidak bisa dihilangkan hingga angka 0. Karenanya, angka 2,8 persen dari total jumlah penduduk merupakan jumlah maksimal di tiap negara.
Di Indonesia sendiri tingginya angka pengguna narkoba didominasi dari kalangan generasi muda. Narkoba jenis ganja merupakan terfavorit di kalangan anak muda, selain ekstasi dan sabu-sabu.
Sebagai salah satu langkah menekan jumlah pengguna narkoba dari kalangan anak muda, BNN bekerja sama dengan 14 Perguruan Tinggi di Bandung menggelar acara diseminasi informasi Pencegahan, Pemberantasan, Penanggulangan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).
“Kami terus menguatkan komitmen agar di lingkungan kampus bebas dari Narkoba, karena proses pembangunan SDM akan terhambat bila peredaran, penyalahgunaan Narkoba tidak diberantas. Harapan kami, para mahasiswa bisa menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan informasi, penyadaran kepada masyarakat tentang berbagai aspek bahaya Narkoba,” harap Yappi.
Kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa se Bandung Raya ini diisi oleh sejumlah pengisi materi yakni anggota Komisi III DPR RI H. Ahmad Kurdi Moekri, DR Deding Ishak dan Saan Mustofa. (Lanie)











