BANDUNG, BEDAnews
Perkembangan musik kolaborasi atau yang biasa disapa dengan istilah "world music" saat ini mulai diminati dan diperbincangkan. Dan grup musik etnik kolaborasi yang tergabung dalam Saratuspersen adalah salah satu grup musik yang menjadi bagian dalam world musik yang unik dan membawa warna berbeda.
Menurut Iwan Darwiansyah, salah satu anggota, Saratuspersen adalah kelompok musik kolaborasi multietnik yang menggunakan gaya dan genre musik Timur dan Barat secara umum yang mempresentasikan semangat pluralisme dan universalisme.
Saratuspersen yang diambil dari bahasa sunda didirikan pada 15 Desember 1999, oleh 2 mahasiswa STSI Bandung yakni Rusli Kustaman (drum) dan Asep Lukman (bass), dan ditambah personil lainnya yakni Muhammad Iman (kendang), Iwan Darwiansyah (djembe, vocal), Ganjar Purnama (percussion), Muklis Setyadi (pamade2), Sendy (pamade1), Satya (kantil1), Ade (kantil2), Moh Febri (trombone), Rivan (Violin) dan Nunu (gitar).
"Saratuspersen dikelompokan juga sebagai kelompok world music karena di dalamnya mempresentasikan aspek-aspek dari pelbagai musik etnik tetapi dengan konsep yang berbeda sehingga menghasilkan musik baru," katanya pada acara Launching Saratuspersen Tour Pendidikan ke sekolah-sekolah di Jawa Barat untuk pengajaran musik tradisional, di Jalan Riau, Selasa (5/2).
Beberapa karyanya sudah terangkum dalam mini album “Sundanesse in Bali” – album “sound of orang kampung” – album kompilasi “Persib” – album kompilasi “The Rought Guide Undiscover World” London (15 negara) – album kompilasi “World Music & Dance” Jepang (10) negara – dan single “Kau”. (Lanie)











