Tentu saja, tidak ada jalan yang mudah. Setiap transformasi memerlukan kolaborasi tingkat tinggi. bukan hanya pada sektor kolaborasi pemerintah saja, tapi juga tentang kepercayaan dan keterlibatan publik. Di sinilah masyarakat juga ditantang untuk tidak lagi menjadi penonton yang pasif, apalagi terjebak dalam euforia simbolik seperti bendera bajak laut. Kita butuh kedewasaan kolektif. untuk membaca lebih dalam visi bangsa, untuk mengawasi, mengkritik, sekaligus mendukung langkah-langkah strategis pemerintah secara konstruktif. Kemerdekaan bukan hanya warisan, tetapi proyek berkelanjutan yang menuntut partisipasi aktif dari setiap warga negara.
Delapan puluh tahun Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tonggak kebangkitan arah baru. Presiden ke-8 seyogianya akan menjadi pelaksana dari harapan yang tersimpan lama bahwa bangsa ini bukan hanya besar karena jumlah penduduknya, luas wilayahnya, atau kekayaan alamnya, tetapi karena kemampuan kolektifnya membaca zaman, membangun ide dan mewujudkan cita. Jika Asta Cita benar-benar menjadi fondasi kebijakan dan bukan sekadar retorika kampanye, maka bisa jadi, di usia 80 tahun ini, Indonesia tidak sekadar merayakan kemerdekaan tetapi juga menandai kematangan sebagai bangsa besar yang siap melompat ke masa depan dan mendunia. (Red).













