Sebagai makhluk sosial, tentu tidak lepas dari berinteraksi dengan orang lain. Akhlak dan perilaku yang dimiliki seseorang sangat dipengaruh oleh akhlak dan perilaku lingkungan sekitarnya. Dalam Islam, agama yang kita imani sebagai nafas kehidupan seorang muslim, memberikan panduan untuk selalu bergaul dengan orang-orang shalih agar akhlak dan perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan bersama orang-orang shalih, kita akan senantiasa termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik. Begitu juga ketika dalam keadaan lemah atau ingin berbuat sesuatu yang buruk, maka setidaknya ada pengingat yang selalu mengembalikan diri ke jalan yang benar. Rasulullah bersabda:
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
- Menghadiri majlis-majlis ilmu para ahli ilmu,
Para ustadz (kyai) yang dikenal kebaikannya, duduk didekat mereka dan mendengarkan pengajian mereka, mengambil manfaat dari semua ini merupakan salah satu sebab hidayah. Al-Faqih Abu Al-Laits (w. 373 H), ulama hadis yang kondang dari Samarkhan, juga sebagaimana yang disampaikan Abu Bakar Syatha’ dalam kitabnya Hasyiyah I’anah Thalibin (I/15), menjelaskan tentang keutamaan seorang murid yang menghadiri majelis ilmu namun ia tak mampu memahami penjelasan gurunya, ia tetap akan memperoleh tujuh keutamaan, yaitu:













