Pertama, ينال فضل المتعلمين (ia akan mendapatkan fadilah sebagai orang yang belajar ilmu);
Kedua, ما دام عنده جالسا كان محبوسا عن الذنوب والخطايا (selama ia duduk di majelis ilmu, ia akan senantiasa terhindar dari dosa dan kesalahan);
Ketiga, اذا خرج من منزله نزلت عليه الرحمة (di saat ia keluar dari rumahnya, rahmat turun kepadanya);
Keempat, اذا جلس عنده نزلت الرحمة على العالم فتصيبه ببركته (di saat ia duduk, rahmat turun kepada gurunya, lalu ia akan memperoleh keberkahannya).
Kelima, تكتب له الحسنات ما دام مستمعا (ditulis baginya kebaikan-kebaikan selama ia masih mendengarkan gurunya);
Keenam, تحفهم الملائكة بأجنحتهم وهو فيهم (Malaikat akan menaunginya dengan sayap-sayapnya, sementara ia berada di dalamnya);
Hidayah merupakan salah satu nikmat Allah yang paling agung kepada hamba-Nya. Kewajiban setiap hamba yang mendapat nikmat adalah bersyukur kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Lantas bagaimanakah cara bersyukur atas nikmat hidayah ini? Bersyukur kepada Allah atas segala nikmatnya – terutama nikmatnya yang paling agung yaitu nikmat hidayah dan taufik untuk bersikap istiqamah adalah dengan terus menerus beribadah kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nikmat itu ada dua macam:
- Nikmat yang berlangsung terus menerus (ni’mah mustamirrah)
- Nikmat yang merupakan hal baru. (ni’mah mutajaddidah)
Untuk nikmat yang berlangsung terus menerus maka cara mensyukuri nikmat tersebut adalah dengan melakukan berbagai ibadah dan ketaatan. Sedangkan untuk nikmat yang merupakan hal baru, maka disyariatkan untuk melakukan sujud syukur atas nikmat tersebut. ” Demikian penjelasan imam Ibnul Qayim.













