Permasalahan banjir di Jakarta bukanlah hal baru. Sejak zaman kolonial Belanda, banjir telah menjadi bagian dari sejarah kota ini. Namun, situasi saat ini semakin diperparah oleh kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, serta penyimpangan dalam tata ruang kota. Akibatnya, siklus banjir terus berulang karena lemahnya penanganan, baik dari sisi struktural maupun kultural.
Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang konkret, strategis, dan berani untuk menyelesaikan akar persoalan banjir secara sistematis dan berkelanjutan.
Perlu diketahui, banjir di Jakarta dipicu oleh kombinasi tiga faktor utama: curah hujan ekstrem, air rob dari laut, serta banjir kiriman dari hulu 13 sungai yang bermuara di Ibu Kota. Selain itu, topografi Jakarta turut memperburuk situasi. Wilayah ini didominasi oleh dataran rendah, dengan ketinggian rata-rata sekitar 8 meter di atas permukaan laut. Beberapa kawasan, terutama di bagian utara yang berdekatan dengan pantai, bahkan berada di bawah permukaan laut.













