Namun, lanjut Atet, yang paling utama adalah berbagi informasi dan saling menyuplai kebutuhan. Sehingga anggota koperasi mendapatkan produk barang yang lebih murah. Sehingga harga jual kepada anggotanya pun bisa bersaing dengan toko modern.
Atet menilai, koperasi tak perlu ragu lagi untuk terjun di sektor riil, meski secara bertahap. Karena, menurutnya selama ini koperasi hanya diidentikan dengan sistem simpan pinjam saja. Hal itu yang tak jarang justru berakhir tragis. Lantaran jumlah peminjam yang banyak tapi minim pengembalian.
“Karena ada koperasi yang menjual produk tidak bersaing dengan toko modern. Karena margin harga yang dibeli koperasi lebih mahal. Tapi sekarang kalau misalnya koperasi A butuh mi instan dan ada koperasi B bisa menyediakan yang murah. Jadi saling tukar menukar informasi dan peluang usaha,” katanya.













