Lalu bagaimana bisa sebanyak 1,2 juta sudah tiba di Indonesia padahal Sinovac sendiri belum bisa memastikan, efektivitas dan keamanannya ?
Ibarat makan buah simalakama, pilihan yang sulit bagi masyarakat. Satu sisi, ingin mendapat perlindungan diri dari serangan virus yang mematikan, namun di sisi lain jaminan keampuhannya masih meragukan. Belum lagi, kepastian kandungan kehalalan vaksin tersebut.
Inilah kehidupan dalam kubangan kapitalisme sekuler. Aturan Ilahi dicampakkan. Hitungan-hitungan bisnis, untung rugi menjadi prinsip mengelola negeri. Akibatnya rakyat hidup nestapa, was-was dengan keselamatan diri, karena penguasa tak tampak kesungguhan mengurus sepenuh hati. Bahkan, tak risih kalaupun harus menjilat ludah yang sudah tertumpah.
Keseriusan pemerintah harusnya menunjukkan sikap konsisten, yakni sejak awal vaksin diberikan secara gratis, jika berfikir dalam kerangka konstitusi. Bukankah negara dibentuk bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia hingga aspek jasmaninya?













