Bandung, BEDAnews
Eksistensi Fakultas Ushuluddin tetap menjadi sentral dan identitas bagi kelengsungan Universitas Islam Negeri Bandung, dulu, sekarang dan yang akan datang. Meski, sudah terjadi perubahan status dari institut kepada universitas. Keberadan fakultas Ushuluddin tetap mewarnai sepak terjang awal perjalanan sejarah UIN Bandung (dulu IAIN -red)dalam pendalaman ilmu ilmu agama.
"Tidak ada UIN kalau tidak ada Fakultas Ushuluddin begitu sebaliknya, Ushuluddin adalah ruh dan jati diri, sebab, motivasi awal pendirian UIN (IAIN-red) mempelajari, memperdalam dan mengamalkan pokok pokok agama Islam,” ungkap Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. DR. Rosihon Anwar, M.Ag., dalam acara sosialisasi Fakultas Ushuluddin dan Quran Digital dihadapan Kepsek MAN/S serta Pontren se- Priangan Timur, Di Hotel Puri Kathulistiwa, Kamis, (21/11/2013).
Dijelaskan Rosihon, dari 8 fakultas yang ada di UIN, tetap Fakultas Ushuluddin menjadi ruh dan jati diri UIN, karena fakultas yang lainnya hanya ilmu terapan. Sebab itu, prinsif dan kiprah Fakultas ushuluddin harus menjadi bagian dari solusi bagi problematika yang dihadapi umat dan bangsa.
Artinya, lanjut dia, Ushuluddin harus berdiri kokoh dan teguh menjadi garda terdepan dalam mempertahankan aqidah umat islam dari serangan, pengaruh, faham atau pemikiran radikal yang mengatasnamakan ajaran tertentu. "kami berharap keberadaan dan kiprah fakultas ushuluddin khususnya para lulusannya harus bisa di rasakan oleh umat dan bangsa dalam memberikan pemahamn dan pencerahan tentang pentingnya aspek spiritual ditengah arus globalisasi dan informasi," katanya.
Karena itu, sambung Rosihon, Fakultas Ushuluddin harus terlibat dalam mengantisipasi dan memberi solusi timbulnya faham atau pemikiran yang menjurus kepada faham radikal / ekstrim yang merugikan umat islam. Jawa barat sebagai etnis Sunda yang punya falsafah "silih asah silih asuh silih asih, sumeah hade ka semah," ternyata tumbuh suburnya berbagai aliran dan faham keagamaan yang punya potensi besar lahirnya pemaham radikal dan ekstrim.
Diakui Rosihon, untuk mengantisipasi dan membentengi gerakan radikal di tatar pasundan pihaknya bekerja sama dengan polda Jabar dengan mengirim personilnya untuk memperdalan ilmu agama di fakultas ushuluddin, "alhamdulillah ada 20 personil Brimob polda jabar yang sudah ikut belajar di ushuluddin. Intinya, para personil di bekali bidang akademis bagaimana mengantisipasi gerakan radikal yang ada di wilayah hukum jawa barat," pungkas Rosihon. (harry gibrant)











