Ciamis, BEDAnews
Salah satu adat budaya masyarakat Tatar Galuh sebelum anak di khitan (pengantin sunat), adalah menjalani ritrual turun mandi ngaleunggeuh ka Jamban Sari, (iring-iringan mengarak pengantin sunat dan mandi di Jamban Sari).
Jamban Sari adalah tempat dimana Raden Aria Dipati Koesoema Diningrat, bupati Ciamis yang mendapatkan penghargaan medali emas dari pemerintahan Belanda bersemayam beserta sumber mata airnya yang konon persembahan beliau sebagai zariah untuk obat.
Seperti pelaksanaan pada Rabu (28/8/2013) yang dijalani pengantin sunat anak pasangan Edi dan Entin warga kampung Sagulingkolot, desa Saguling, kec, baregbeg, Ciamis, Aditya Fajri (5 thn) dan pameper (pasangan perempuan, red) Tesa Putri (6 thn) sebelum disunat, diarak dari kediaman menuju Jamban Sari dengan menunggangi Sisingaan diiringi tabuhan-tabuhan.
Kemudian di mandikan dengan air dari sumber mata air Jamban Sari dan dirias serta mengenakan pakaian adat, bak pengantin cilik, lalu menuju makam Dipati Koesoema dengan cara dipunggu (dinaikan pundak orang tua, red) untuk ditawasulkan / berziarah beserta rombongan, dengan dipimpin juru kunci. Usai berdoa kemudian pengantin sunat pulang kekediaman dengan menaiki Sisingaan dari lingkung seni Cimanyar pimpinan Ibu Tating.
Ayah pengantin sunat, Edi kepada BEDAnews.com menjelaskan melaksanakan ritual turun mandi ngaleunggeuh ka Jamban Sari, untuk berharap berkah. “Selain ngarumat dan ngamumule adat sunda, sekaligus mengharap berkah agar dikemudian hari Aditya menjadi anak yang berguna, berbakti, dan soleh,” katanya.
Sementara itu menurut Juru kunci Jamban Sari, M Bunyamin (98 thn), prosesi tersebut dilaksanakan warga tatar galuh dan sekitarenya karena orang tua pengantin sunat ingat akan purwadaksi (wiwitan dan wekasan, asal musal. red).
“Naleunggeuh turun mandi untuk mengingat purwadaksi, jika ada perkataan orangtua akan anaknya tentang kehendak maka harus dilaksanakan, bilih katagih ku alip katanyaan ku paribasa,” katanya.
Mereka lanjutnya, mengharap berkah mandi di sumber mata air Jamban Sari agar keinginan terkabul berkat amal zariah karuhun. “Semasa hidupnya, kanjeng Dipati berkata pinasti yang agung payung sari mendali emas, caina tamba panyakit amal zariah kaula,” ujar juru kunci. (abraham)











