“Lalu dilengkapi cerita bahwa uang tersebut diterima secara tunai dari Sekretaris Direksi Lippo Cikarang pada masa itu yang bernama Melda Peni Lestari. Katanya serah terimanya di helipad Lippo Cikarang,” tuturnya.
Skenario itu, ujar Toto, terlihat cocok sampai ia akhirnya jadi tersangka. Namun ia mempertanyakan apakah laporan keuangan Lippo Cikarang dan Lippo Karawaci pernah diperiksa oleh KPK dan apakah ada bukti uang tunai yang keluar Rp 10 miliar.
“Mereka perusahaan publik yang diawasi OJK. Saya sebagai presdir, mana bisa mengeluarkan uang Rp 10 miliar tanpa ada proses dan anggaran yang jelas. Dua, uang tunai rupiah itu volume fisiknya besar dan berat. Bagaimana cara bawanya? Apakah seorang Melda kuat dan berani membawa uang sendiri. Pasti perlu bantuan dan pengawalan. Jadi mestinya harus ditanya siapa saksinya,” ujarnya.












