Selama tiga hari, peneliti menggunakan pendekatan etnografi partisipatif melalui observasi praktik pertanian huma atau ladang gilir balik, sistem leuit atau lumbung padi, ritual adat, serta tata kelola hutan berbasis zonasi.
Data diperkuat dengan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) lintas generasi, dan dokumentasi visual untuk menangkap pewarisan dan adaptasi pengetahuan ekologis komunitas.Kasepuhan Gelar Alam memegang filosofi. “Ngamumulĕ Melak Parĕ” yang memandang padi bukan sekadar komoditas, melainkan representasi kehidupan. Konsepsi ini membuat penjualan padi dianggap sebagai tindakan menjual kehidupan mereka sendiri.
Sejak tahun 1368, kasepuhan tercatat telah mengalami 19 kali perpindahan pusat pemerintahan. Di setiap lokasi baru, imah gede selalu didirikan pertama kali sebagai penanda signifikansi spiritual dan sosial.Meski memiliki ketahanan yang kuat, komunitas kini menghadapi tekanan eksternal.













