“Saya bersyukur Bandung dipercaya jadi lokasi awal program ini. Tapi saya juga melihat ada keterlambatan dalam proses. Maka, kami akan percepat dan pastikan koordinasi terus berjalan agar data yang digunakan akurat,” ujar Farhan.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma menyatakan, dukungan yang diberikan tidak hanya soal rumah, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat.
“Kami tidak hanya membantu renovasi rumah tidak layak huni, tapi juga melihat apa yang dibutuhkan masyarakat. Pekerjaannya apa? Kebutuhannya apa? Bantuan apa yang paling tepat? Itulah yang kami usahakan untuk diberikan,” jelas Sugianto.
Ke depan, semua pihak berharap program ini bisa jadi contoh praktik baik gotong royong dalam pembangunan perumahan yang berkeadilan dan menyentuh kebutuhan nyata warga.












