YOGYAKARTA || Bedanews.com — Ada pemandangan tak biasa di Ruang Sidang Semu STAI Yogyakarta, Rabu siang, 10 Oktober 2026. Sejak pukul 13.00 WIB, suasana ruangan terasa hangat penuh dinamika. Hari itu, dua dosen STAI Yogyakarta, Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I. dan Khairul Anwar, S.Pd.I., M.Pd., resmi melewati salah satu gerbang penting dalam perjalanan akademik mereka: proses penilaian Serdos (Sertifikasi Dosen).
Acara ini tidak sekadar seremoni formal di atas kertas. Hadirnya jajaran dari Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah III Provinsi D.I. Yogyakarta menegaskan betapa krusialnya momentum tersebut. Bagi sebuah kampus Islam, sertifikasi bukan sekadar urusan administrasi, melainkan ajang pembuktian mutu dedikasi mengajar.
Proses penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berlapis. Ketua STAI Yogyakarta, Dr. Diyah Mintasih, S.Pd.I., M.Pd., turun langsung memimpin evaluasi bersama jajaran pimpinan kampus lainnya. Tak hanya jajaran pimpinan, Tiga dosen sejawat—Dr. Januariansyah Arfaizar, S.H.I., M.E., Ricky Fathurrahman, S.H.I., M.H.I., dan H. Suharto, S.Pd.I., M.M.—serta tiga dosen rekan sejawat lainnya juga ikut memberikan catatan obyektif. Kehadiran para sejawat ini menjadi cermin profesionalisme antar-akademisi yang saling mendukung sekaligus menguji ketajaman keilmuan.
Uniknya, suara paling jujur justru datang dari sudut pandang yang berbeda. Lima mahasiswa lintas program studi ditambah lima mahasiswa lainnya dihadirkan khusus untuk memberikan penilaian langsung terhadap cara mengajar, empati, serta interaksi kedua dosen tersebut di dalam mau pun di luar kelas. Kejujuran sudut pandang mahasiswa inilah yang memberi warna segar dalam ruang uji tersebut.
Pak Rofik, yang dikenal tekun menjembatani studi Islam klasik dengan konteks kekinian, serta Pak Khairul yang selalu artikulatif di ruang kelas, mengikuti seluruh rangkaian proses evaluasi dengan tenang dan lugas. Setiap paparan karya ilmiah, pengabdian masyarakat, hingga rekam jejak pengajaran dibedah secara terbuka.
Langkah ini menjadi penanda nyata komitmen STAI Yogyakarta dalam menjaga mutu pendidikan tinggi. Di tengah tantangan zaman yang kian dinamis, sertifikasi dosen menjadi pijakan penting agar proses belajar-mengajar di kampus tetap relevan, bermutu, dan berdampak nyata bagi masyarakat luas. (MRM/Red)













