Kelangkaan BBM yang berulang harus menjadi peringatan bahwa ketahanan energi tidak dapat dibangun melalui pernyataan optimistis semata. Ia menuntut data yang terbuka, perencanaan yang matang, cadangan yang memadai, subsidi yang tepat sasaran, dan kemampuan negara mengantisipasi risiko.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, Indonesia tidak boleh hanya sibuk merespons gangguan setelah dampaknya dirasakan rakyat. Negara harus mampu membaca perubahan lebih awal, menyiapkan alternatif, dan memastikan bahwa kebijakan strategis menghasilkan manfaat nyata.
Ukuran keberhasilan kebijakan energi pada akhirnya bukan hanya angka harga di papan SPBU atau besarnya penghematan devisa yang diproyeksikan. Ukurannya adalah apakah petani dapat mengolah sawah, nelayan dapat melaut, angkutan dapat beroperasi, industri dapat berproduksi, dan masyarakat dapat menjalani kehidupan tanpa dibayangi ketidakpastian pasokan.













