Ia menekankan bahwa penyediaan makan bergizi gratis bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga investasi jangka panjang untuk mencetak generasi emas Indonesia 2045.
“Anak yang sehat hari ini adalah pemimpin bangsa esok hari. Karena itu, pemenuhan gizi harus kita jadikan prioritas,” ujar Sihar Sitorus.
“Program MBG disusun dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) agar setiap penerima manfaat memperoleh asupan nutrisi sesuai kebutuhan,” lanjutnya.
Selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, program ini juga memberikan dampak ekonomi lokal, dengan melibatkan tenaga kerja sekitar. Setiap Sentra Penyedia Program Gizi (SPPG) mampu melayani 3.000–4.000 penerima manfaat sekaligus menyerap 45–50 tenaga kerja lokal.
Hingga kini, tercatat 239 SPPG telah beroperasi di Sumatera Utara, termasuk 9 SPPG di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pemerintah menargetkan agar pada akhir 2025, manfaat program MBG dapat dirasakan di seluruh wilayah Indonesia.












