“Apabila kebutuhan gizi tidak terpenuhi dalam 1000 HPK, maka dampaknya bersifat permanen. Anak berisiko mengalami stunting, gangguan perkembangan otak, dan penurunan kemampuan belajar,” ujar Netty Prasetiyani.
Ia juga menekankan pentingnya peran kader posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan. “Kader posyandu memiliki peran vital karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat paling bawah,” tambahnya.
Netty juga turut mengapresiasi hadirnya Program MBG sebagai pelengkap upaya pemerintah untuk menurunkan angka stunting dan gizi buruk. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, DPR, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program MBG disemua daerah.
“Investasi terbaik bangsa adalah pada gizi anak-anaknya. Dengan menjaga 1000 Hari Pertama Kehidupan, kita sedang membangun generasi emas Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh,” tegasnya.













