\
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dekonstruksi persepsi poligami berlangsung melalui tiga mekanisme utama: reinterpretasi nilai agama, reframing media, dan intervensi regulasi negara. Proses ini menandai transisi menuju konfigurasi baru makna sosial poligami.
Dalam keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa arena publik menjadi ruang kontestasi simbolik antara religious-conservative framing dan progressive-gender framing, dengan interaksi saling silang di ruang digital. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau dan menganalisis perubahan persepsi poligami di Indonesia untuk memahami implikasi sosial, keagamaan, dan politik yang luas.***












