Di negara-negara seperti Jerman, Prancis, atau Inggris, tradisi demokratis menekankan pentingnya transisi kekuasaan yang mulus dan tanpa intervensi berlebihan dari pemimpin yang akan lengser. Misalnya, Angela Merkel di Jerman memastikan bahwa transisi ke penggantinya, Olaf Scholz, berlangsung secara lancar tanpa perubahan besar-besaran di kabinetnya pada akhir masa jabatannya. Emmanuel Macron di Prancis juga menjaga netralitasnya selama masa transisi, memberi ruang bagi presiden baru untuk menentukan arahnya sendiri.
Langkah Jokowi, yang justru memperkuat dinasti politik dan mengintervensi penyusunan kabinet pemerintahan berikutnya, menunjukkan adanya pelanggaran terhadap etika politik yang umumnya dipegang oleh negara-negara demokrasi. Cawe-cawe ini dapat dianggap sebagai upaya untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaan pribadi bahkan setelah masa jabatan resmi berakhir, sesuatu yang tidak lazim dan jarang terlihat dalam transisi demokrasi yang sehat.












