Dudi menjelaskan bahwa, berita hoax bekerja efektif karena menargetkan emosi penerima informasi. Dengan demikian, dampak yang dihasilkan menjadi sulit untuk diperbaiki. Selain itu, otak manusia cenderung menerima informasi yang sejalan dengan keyakinannya, karena adanya bias konfirmasi dan kognisi.
Satgas Anti Hoax telah merancang program yang mencakup tindakan pre-emptif, preventif, dan korektif. Ini mencakup kegiatan deteksi, pemantauan, investigasi, dan kontra-informasi. Mereka juga aktif dalam literasi digital melalui seminar dan pelatihan untuk membantu masyarakat mengenali berita hoax. “Kami juga melakukan literasi digital melalaui seminar dan pelatihan mengenali hoax,” tegas Dudi.
Dudi menegaskan bahwa, Satgas Anti Hoax melibatkan partisipasi aktif dari institusi pendidikan dan perguruan tinggi. Kolaborasi ini mencakup kerjasama dalam mendeteksi dan memantau berita hoax di media sosial dan online. Selain memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence), Satgas juga melibatkan mahasiswa dan dosen untuk membantu dalam pemantauan dan verifikasi informasi.











