“Terus terang saya ikut terharu dengan semua hasil karyanya. Roy punya dedikasi luar biasa pada profesinya, meski memfoto kami sifatnya hanya fun, bukan komersial,” tutur Saras.
“Semua asisten turun tangan. Mulai dari yang make-up, home service yang menanyakan apakah kami sudah sarapan dan mau sarapan apa, kue dan makan siang: semua tersaji sesuai waktu yang telah dijanjikan oleh Roy,” papar Saras.
Saras tidak pernah membayangkan jika teman satu kelasnya di 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan pada 1978 itu akan menjadi fotografer profesional.
“Roy juga memperlihatkan semua koleksi kameranya, bahkan dia memiliki edisi kamera terbatas satu merk tertentu. Satu kata buat Roy: profesional,” tegas Saras.
Apa kata Roy? Menurut Roy, dia memang sengaja mengundang sahabat-sahabatnya di Dupati demi membuat akhir pekan ini lebih menyenangkan. Apalagi, di antara mereka, ada Nina Bancroft yang sudah 23 tahun tinggal di Kanada dan tidak setiap saat bisa datang ke Jakarta. Karena ada keperluan keluarga besarnya di Jakarta tahun ini dia bisa reunian dengan teman-teman Dupatinya. Nina segera kembali ke Kanada pekan depan, persisnya 23 April nanti.













