Mengapa topik ini begitu penting sampai-sampai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) meluangkan waktu secara khusus?
Di era serba cepat dan modern seperti sekarang, Pancasila sering kali dipahami sekadar sebagai hapalan di lembar ujian atau slogan saat upacara bendera. Padahal, Pancasila adalah ‘mesin utama’ bertoleransi dan berbangsa. Rofik dan Alifuddin mencoba membedah bagaimana pemikiran progresif Prof. Yudian Wahyudi—yang dikenal lugas dan berpijak pada realitas—bisa dipadukan dengan pisau analisis hermeneutika pemikir Islam kontemporer asal Aljazair, Mohamed Arkoun.
“Pancasila itu hidup, fleksibel, dan selalu relevan kalau kita paham cara membaca zamannya,” ujar salah satu kandidat doktor dalam obrolan penuh tawa tapi padat isi tersebut.













