38. PRABU SAKTI (1543-1551 M)
Raja Pajajaran ke-4, menggantikan ayahnya Ratu Dewata, yang memerintah dari tahun. Untuk mengatasi yang ditinggalkan oleh Ratu Dewata yang bertindak serba alim, ia bersikap keras bahkan cenderung kejam dan lalim. Penulis Carita Parahiyangan melukiskan raja ini. Banyak rakyat dihukum mati tanpa diteliti lebih dahulu salah tidaknya. Harta benda rakyat dirampas untuk kepentingan keraton tanpa rasa malu sama sekali. Setelah meninggal ia kemudian di makamkan di Pengpelengan.
39. PRABU NIKALENDRA (1551-1567 M)
Nilakendra atau terkenal dengan nama Tohaan di Majaya, naik tahta sebagai penguasa Pajajaran yang ke-5, pada saat situasi kenegaraan yang tidak menentu, dan frustasi telah melanda ke segala lapisan masyarakat. Frustasi dilingkungan kerajaan lebih parah lagi, ketegangan menghadapi serangan musuh (Banten, Cirebon dan Demak) yang datang setiap saat telah mendorong raja dan para pembesarnya memperdalam aliran keagamaan tantra. Disamping itu sikap poya-poya raja terhadap makanan, pembangunan keraton dan taman-taman.











