34. PRABU SUSUK TUNGGAL (1382-1482 M)
Prabu Susuk Tunggal merupakan putra dari Wastukencana, dari istrinya, Rara Sarkati, putri penguasa Lampung. Ia berkuasa di tanah Sunda cukup lama (selama 100 tahun), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Prabu Susuk Tunggal atau Sang Haliwungan menggantikan tahta kerajaan Sunda dari ayahnya, di daerah Parahiyangan bagian barat yang bertahta di Pakuan, sedang saudara seayah lain ibu, Prabu Dewa Niskala berkuasa di galuh (Parahiyangan Timur). Prabu Susuk Tunggal yang berkuasa di Pakuan , kemudian membangun pusat pemerintahan dan membangun keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Ia tidak mempunyai anak laki-laki. Putrinya, Kentrik Manik Mayang Sunda, kemudian menikah dengan Jayadewata, putra Prabu Dewa Niskala dari kraton Galuh. Dengan demikian jadilah raja Sunda dan Galuh yang seayah (keduanya putra dari Wastukencana) menjadi besan. Setelah Prabu Susuk Tunggal, tahta Sunda kemudian digantikan oleh menantunya, Prabu Jayadewata, yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja, yang mempersatukan 2 istana Sunda, keraton Galuh dan Pakuan.













