Melalui pemetaan kinerja, kompetensi, dan potensi ASN secara terukur, proses promosi, rotasi dan pengembangan karier dapat dilakukan secara objektif dan transparan. “Penerapan instrumen seperti _nine box matrix_ bukan sekadar alat penilaian, melainkan mekanisme strategis untuk menyiapkan kader pimpinan birokrasi secara berkelanjutan dan bebas dari intervensi non-kinerja,” ungkap Prof. Zudan.
Prof. Zudan menutup arahannya dengan menegaskan bahwa, keberhasilan manajemen talenta akan menentukan wajah birokrasi ke depan.
Menurutnya, masa depan birokrasi ditentukan oleh keberanian meninggalkan pola lama. “Manajemen talenta bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi kebutuhan strategis untuk memastikan birokrasi bekerja profesional, adaptif dan mampu menjawab tantangan pelayanan publik. Kalau ingin birokrasi maju, tidak ada pilihan lain selain membangun sistem. Manajemen talenta adalah jawabannya,” pungkasnya.












