“Mereka menjelajahi ruang digital dengan adab, menghadirkan dakwah dengan estetika, dan berkarya dengan nilai. Santri zaman now bukan generasi yang gagap teknologi. Mereka mampu menulis kitab dan kode, membaca fikih dan file digital, berdiskusi di serambi pesantren sekaligus di forum internasional.” ungkap Lilis dalam siaran Pers kepada media, Selasa, 21 Oktober 2025.
Dipaparkan ia, Santri konten kreator, santripreneur, dan santri coder adalah wajah baru pesantren yang menolak tertinggal oleh zaman. Namun, di balik kemajuan itu, ada satu hal yang tetap menjadi jangkar, adalah adab. Santri modern sadar bahwa ilmu tanpa adab hanya melahirkan kesombongan intelektual.
Globalisasi bukan alasan untuk tercerabut dari akar nilai. Dalam dunia yang sering menukar makna kebebasan dengan kebebalan, santri hadir sebagai penjaga keseimbangan, mengglobal tanpa kehilangan arah, modern tanpa kehilangan adab.













