Lilis menekankan bahwa puasa harus menjadi momentum penguatan kompetensi, bukan hanya perubahan jadwal makan. “Karyawan belajar mengatur ritme kerja dengan lebih cermat. Pemimpin belajar merencanakan aktivitas secara lebih strategis. Organisasi dan lembaga belajar menyesuaikan sistem agar tetap efektif tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.” terang Lilis.
Lilis mengajak kita untuk menjadikan Ramadhan sebagai ruang refleksi manajerial, yang dapat melahirkan transformasi menuju organisasi yang produktif sekaligus beradab, SDM yang kompeten sekaligus beretika, dan bangsa yang maju tanpa kehilangan nurani.***













