Ketika ditanyakan kapan menebus barangnya kembali, Sumarni hanya menghela napas, lalu mengatakan, kadang dua bulan setelah lebaran atau lebih bisa ditebusnya. Itu pun diupakannya dengan menyisihkan uang belanja sehari-hari.
Sementara warga lainnya memanfaatkan jasa renternir dan bank emok. Meski bunga dari pinjaman itu cukup tinggi, warga menyebutkan itu memang konsekuensi yang harus diterimanya. Daripada keluarganya tidak bisa melaksanakan sahur pertama nanti.
Bahkan salah seorang warga Katapang, Sumiati, mengemukakan, kalau dirinya terpaksa meminjam ke renternir dengan bunga pinjaman mencapai 20 persen. Untuk pembayarannya diungkapkan Sumiati yang sehari-harinya berdagang gorengan keliling, dilakukannya setiap hari. “Sebenarnya saya tak mau minjam ke renternir, tapi kemana lagi saya bisa mendapatkan uang,” ujarnya.













