Aat lebih lanjut mengemukakan, dewasa ini aktivitas diplomasi menunjukkan peningkatan peran yang sangat signifikan seiring dengan semakin kompleksnya isu-isu dalam hubungan internasional. Hubungan internasional pun tidak lagi semata-mata dipandang sebagai hubungan antar negara, namun juga meliputi hubungan antar masyarakat internasional.
Dengan demikian, diplomasi tradisional atau yang dikenal dengan istilah “first track diplomacy” (diplomasi jalur pertama) yang hanya melibatkan pemerintah dalam menjalankan misi diplomasi tentu tidak akan efektif dalam rangka menyampaikan pesan-pesan diplomasi terhadap suatu negara atau bahkan terhadap dunia internasional.
Maka, aktivitas diplomasi yang melibatkan peran publik akan sangat dibutuhkan dalam rangka melengkapi aktivitas diplomasi tradisional. “Second track diplomacy” yang bersifat informal itu dapat melengkapi, memperkuat, atau mengisi ruang-ruang yang masih kosong dari apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah melalui “first track diplomacy” yang bersifat formal.










