Oleh: Sayed Junaidi Rizaldi *
JAKARTA || Bedanews.com – Ketika Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia menjadi mediator konflik Iran–Amerika Serikat–Israel, sebagian pihak langsung meragukannya. Terlalu besar, terlalu berani, bahkan dianggap di luar kapasitas Indonesia.
*Justru disitulah masalahnya*
Selama puluhan tahun, bangsa ini terlalu lama dididik menjadi penonton geopolitik dunia. Indonesia seolah cukup puas menjadi negara yang hanya mengeluarkan pernyataan keprihatinan tanpa keberanian mengambil peran strategis.
Padahal sejarah Indonesia tidak pernah lahir dari mental penonton.
Di bawah kepemimpinan Soekarno, Indonesia pernah mengguncang dunia melalui Konferensi Asia-Afrika—sebuah momentum ketika negara-negara berkembang berdiri sejajar dengan kekuatan besar dunia. Indonesia saat itu bukan negara kaya, bukan negara militer kuat, tetapi memiliki sesuatu yang lebih penting: keberanian moral dan kepercayaan diri geopolitik.











