Bandung, BEDAnews
Potensi pengembangan padi organik di Jawa Barat sangat besar, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya, terlebih dengan melihat permintaan dari pasar negara-negara Eropa dan Amerika yang semakin meningkat.
Hal tersebut mengemuka pada saat kunjungan kerja Komisi B DPRD Provinsi Jawa Barat ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Kabupaten Tasikmalaya, (29/5) yang merupakan pioner pengembangan padi organik di Jawa Barat.
Irwan Koesandiantoro, Anggota Komisi B menyampaikan apresiasi serta dorongan kepada Gapoktan Simpatik untuk terus mengembangkan pertanian organik di Jawa Barat. "Pertanian organik harus dikembangkan tidak hanya di Kabupaten Tasikmalaya saja, melihat peluang ekspor yang terbuka lebar diharapkan petani lain di Jawa Barat juga bisa belajar dari Gapoktan Simpatik ini."
Dalam penjelasannya kepada Anggota Komisi B, Ketua Gapoktan Simpatik Uu, menjelaskan pihaknya mengembangkan System of Rice Intensification (SRI) dan hingga saat ini total rata-rata produksi pertahun mencapai 650 Kg, untuk diekspor ke luar negeri sejak 2009 mencapai total 378,608 Kg.
Gapoktan Simpatik atas dukungan dari DPRD Jabar pada tahun 2010 mendapatkan bantuan APBD sebesar Rp. 1 milyar yang dipergunakan untuk membeli mesin penyortir dengan kapasitas 20 ton serta 2 unit mesin vacuum sealer dengan kapasitas 1 ton per hari.
"Kalau melihat kapasitas, mesin penyortir dan vacuum sealer kami sebenarnya masih kekurangan mesin vacuum sealer untuk packaging yang kapasitas satu unit mesinnya hanya bisa membuat 6 paket ukuran 1 kg," jelas Uu. Padahal menurut Uu permintaan pasar dari luar semakin meningkat.
Sementara Wawan Gunawan dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat yang mendampingi Komisi B menjelaskan pihaknya sudah membuat SOP mengenai pertanian yang pada intinya diarahkan ke pertanian organik. Namun menurut Wawan setiap daerah memang kondisinya berbeda-beda sehingga untuk pengembangannya memang dilakukan di daerah masing-masing.
Sementara itu, Kabid Dinas Pertanian Kab. Tasikmalaya Sony Priatna mengemukakan Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya memang memberikan dorongan kepada petani di wilayahnya untuk mengembangkan padi organik diantaranya dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh Gapoktan Simpatik.
"Pada intinya pertanian organik ini mengutamakan dulu ekosistem baru setelah itu bicara tentang pangsa pasar. Kalau belum apa-apa sudah bicara pasar kami takut tidak bisa memenuhi permintaan," lanjut Sony.
Terkait dengan ekspor ke luar negeri, menurut Uu produk padi organik yang dihasilkannya haris melalui beberapa tahap sertifikasi dan persyaratan yang sangat ketat diantaranya persyaratan Fair Trade. Oleh karena itu setiap tahun selalu dilakukan audit eksternal oleh IMO (Institute for Marketecology Organic) dan juga audit internal yang dilakukan oleh organisasi sendiri pada setiap musimnya sejak dirintis 2002 lalu. (hermanto)











