KulinerSosok

Posko, Coffee & Resto, Perpaduan Karya, Bisnis dan Sosial Seorang Istri Prajurit

Kata “posko” atau pos komando, biasanya digunakan di bidang militer.  Namun posko yang dimaksud di sini bukanlah pos militer, melainkan nama suatu resto yang berada di Kota Bandung. Memang, jarang-jarang orang menggunakan istilah militer untuk sebuah  cafe  atau rumah makan. 

“Posko Coffee & Resto”, demikian nama resto itu. Nama yang kental dengan “kemiliteran”. Bukan hanya nama restonya saja yang berbau militer, menu-menu yang disajikan pun menggunakan istilah-istilah militer yang cukup unik

Bila kita membuka buku menu, di situ terpampang menu “Ayam Goreng Kremes Tamtama”,  “Ayam Goreng Geprek Bintara”,  “Ayam Goreng Rempah Perwira”,  “Bala-bala Infanteri”, “Lumpia Semarang Paskhas”,  “Tahu Crispy Komando”,  “Banana Cheese Navy”, “Singkong Slim Kopassus”, dan masih banyak menu lainnya baik berupa minuman atau cemilan yang menggunakan istilah militer. 

Widiyawati Setyaningrum, sang pemilik “Posko”

Cukup kreatif dan unik memang. Selidik punya selidik, Widiyawati Setyaningrum, sang pemilik “Posko” ternyata istri seorang prajurit TNI AD.

“Pantas, pas dan ringkas”, itu yang ada di benak banyak orang soal nama resto yang kental berbau militer.

“Awalnya susah juga memberi nama resto saya. Namanya harus unik, singkat, tidak hanya mudah diucapkan, juga mudah melekat di ingatan orang. Mungkin karena saya istri prajurit, dan letaknya dekat dengan dua sesko, (Seskoad & Sesko TNI) akhirnya saya terinspirasi untuk kasih nama posko,” ungkap wanita kelahiran Kebumen itu.

Bagi Widiya, Posko bukan sekedar kafe atau rumah makan, atau sarana penyaluran hobbynya yang suka berbisnis, tapi lebih dari itu merupakan jalan bagi dirinya untuk bisa berkarya dan berbagi kepada sesama melalui kegiatan sosial.

Sejak Posko berdiri tanggal 22 Desember 2018, maka 2 bulan kemudian tepatnya bulan Februari 2019, langsung berjalan kegiatan kajian dan berbagi nasi berkah. Tak hanya di dalam posko kegiatan dilaksanakan, juga secara berkala melakukan kunjungan ke panti sosial dan jompo, ke lembaga pemasyarakatan, atau sekedar menghibur dengan mengajak wisata anak-anak PAUD dari sekolah yang serba kekurangan di pedesaan.

“Di sini kami rutin mengadakan pengajian tiap hari Selasa, Jumat berkah, dan baksos. Tiap ada pengajian Posko ini dipadati jemaah yang datang. Itu memberi kepuasan tersendiri bagi saya,” ujar anggota Persit istri Brigjen TNI Dwiyanto Budi Prabowo itu lebih jauh.

Widiyawati Setyaningrum dan Suami Brigjen TNI Dwiyanto Budi Prabowo

Selain mengadakan pengajian dan kegiatan sosial, diakui Wid, Posko juga merupakan sarana mengaktualisasikan dirinya untuk eksis dalam bermasyarakat dan berorganisasi. Tak kurang dari 10 organisasi/ komunitas yang diikuti, menjadikan  Posko sebagai “base camp”-nya seperti komunitas “Lagu-lagu Lawas”,  “Lion Dance”,  “Bintang Terang”,  “Terrano Community”, dan komunitas lainnya.

Lengkap sudah impian ibu dari 3 anak laki-laki dan 1 perempuan itu dalam menjalani kehidupan. Tak habis rasa syukur ia ucapkan dalam hati. Bagaimana tidak bersyukur, dengan segala yang telah diraihnya ini. Di sela tugasnya sebagai istri prajurit yang siap mendampingi suami tugas di mana pun, Wid juga ingin berkarya tanpa harus mendompleng jabatan suami yang perwira. Suami yang  sudah  “berbintang”, putera-puteri yang sehat dan sudah bekerja, kehadiran 4 cucunya dari 2 anak yang sudah menikah, kian melengkapi kebahagiaannya.

Putera sulungnya, Aditiya Prabowo, mengikuti jejak sang ayah menjadi tentara dan sudah menjadi perwira muda di Kopassus, salah satu pasukan elit TNI AD, sudah memberinya 3 orang cucu. Sementara 3 adiknya Yudistira Prabowo, Merinia Ayu Prabowo dan  Bririyan  Prabowo, tidak terjun ke milliter, tapi sukses di bidang lainnya yang amat membanggakan.

Kesuksesan yang diraih perempuan  ulet itu, tentu melalui suatu proses yang panjang dan berliku. Tidak begitu saja datang kesuksesan menghampirinya. Sebagai perempuan biasa, Wid sedikit tahu bagaimana menjadi istri prajurit karena kakak kandungnya juga seorang tentara. 

“Saya ketemu bapak (suami), saat saya masih kelas 2  SMA yang kebetulan 1 angkatan dengan kakak saya, AKMIL lulusan 1985. Begitu lulus, bapak bertugas di Batalyon 751 Sentani Papua. Maka setelah menikah tahun 1987, saya langsung diboyong ke Sentani. Di situ saya banyak belajar. Belajar  mandiri dan belajar menjadi pemimpin, serta belajar memberi keputusan untuk orang lain karena suami sebagai Danton,” jelas wanita berpenampilan sederhana ini.

Posko Coffee & Resto

Selama 9 tahun mendampingi suami bertugas di Sentani, banyak cerita dan pengalaman seru yang penuh tantangan. Sebagai pasangan pengantin baru, Wid termasuk cepat beradaptasi dengan lingkungan dan bagaimana menjadi istri prajurit. 

“Saya sering ditinggal sendiri karena suami pergi ke pos perbatasan di hutan yang lumayan jauh. Daerahnya masih sepi. Situasinya masih belum aman karena banyak pergerakan GPK (Gerombolan Pengacau Keamanan) cikal bakal lahirnya OPM (Organisasi Papua Merdeka). Saya harus mandiri dan tidak boleh mengeluh. Untuk mengisi waktu saya melakukan banyak kegiatan termasuk belajar bisnis”, papar Wid detail.

Di Papua, lanjut Wid, hanya ada seorang dokter kandungan itu pun adanya jauh di Jayapura. Maka kalau ada istri anggota yang sakit atau mau melahirkan, bila harus dirujuk ke rumah sakit tapi tidak punya biaya, sungguh keadaan yang penuh tantangan dan sulit. Tapi dengan kekompakan kami para istri prajurit yang bahu membahu membantu, semua itu bisa teratasi. Itu indah sekali. Pengalaman itu tak terlupakan,” ungkap pegiat sosial itu berkisah.

Di Sentani pula, wanita tangguh yang akrab disapa “mamah” ini oleh jemaah pengajiannya,  makin terasah kemampuan berbisnisnya. Apa pun ia lakukan untuk mendapat penghasilan tambahan dan tidak selalu bergantung kepada suami. Yang teringat dan selalu terpahat di kalbunya adalah kata-kata saat perwira muda yang kini menjadi suaminya itu mengajaknya menikah.

“Menikah dengan tentara itu kamu jangan pernah bermimpi menjadi kaya. Yang jelas, kamu saya nikahi, kamu tidak akan kehujanan dan kelaparan,” jelas Wanita kelahiran bulan April 54 tahun yang lalu itu.

“Ya jelas tidak kehujanan dan kelaparan, wong ada mess dan dapat beras bagian,” sambung Widiyawati terbahak.

Siti Sundari (Penulis) dan Widiyawati Setyaningrum

Dari kata-kata itu pula yang akhirnya membuat istri perwira bintang satu itu terpecut untuk berbisnis. Bisnis tas dari Negeri Kanguru, bisnis perhiasan mutiara, juga agen asuransi pun dirambahnya. Sebagai agen asuransi prestasinya pun luar biasa. Dua hari setelah bergabung istri prajurit itu langsung bisa memasukkan banyak klien. Prestasinya itu menghantarkannya ke gerbang kesuksesan dengan banyaknya kocek yang mengalir ke sakunya. Juga berbagai fasilitas bisa dinikmatinya termasuk tour ke luar negeri.

Setelah 9 tahun tugas di Sentani, akhirnya Dwiyanto sang suami pun pindah tugas ke Cimahi, Palembang, Garut, Magelang, dan Bandung seiring jabatan dan pendidikan yang dijalani. Terakhir bertugas di SESKO TNI sebelum akhirnya pindah tugas di Mabes TNI Jakarta. 

Suami banyak bertugas di Bandung, sesuai namanya, Widiyawati Setyaningrum, istri prajurit ini pun setia mendampinginya. Di Kota Bandung pula ibu Persit itu berkarya,  bersosial dan berbisnis untuk merenda hari bersama suami bila masa purna sudah tiba. Berkumpul dalam satu keluarga utuh, membangun “Posko, Coffee & Resto” urat nadi kehidupan dan kesuksesannya. Kesuksesan istri seorang prajurit sejati. (Siti Sundari)

Selanjutnya

Related Articles

Back to top button
Close