Ketika kasus tuduhan Obama tersebut mencuat, Ia segera merilis salinan lengkap akta kelahirannya dari Hawaii pada 27 April 2011, membuktikan bahwa ia lahir di Honolulu pada 4 Agustus 1961.
Dengan langkah terbuka itu, Presiden Barak Obama menutup ruang spekulasi kelompok “birther” yang menyebar disinformasi bahwa ia lahir di Kenya. Obama menganggap tuduhan itu sebagai gangguan politik, tetapi tetap memilih jalur transparansi untuk meredam keraguan.
Jika kita mencermati langkah yang ditempuh Barack Obama, semestinya ketika itu, Presiden Jokowi dapat menempuh pendekatan serupa.
Menunjukkan ijazah asli secara terbuka bukan hanya merupakan pilihan yang tepat secara moral, tetapi juga langkah strategis untuk menjaga legitimasi di mata rakyat dan catatan sejarah. Tindakan semacam itu akan mencerminkan sikap kenegarawanan serta memberikan teladan berharga bagi generasi penerus tentang arti penting transparansi dan akuntabilitas dalam kepemimpinan.













