Hal serupa juga terjadi pada Pramono Anung. Awalnya ia mengaku tidak memiliki keinginan untuk maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Namun, setelah mendapat penugasan dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Pramono akhirnya menerima amanah tersebut.
Perbedaan keduanya terletak pada sumber penugasan. Ali Sadikin menerima penugasan dari Presiden RI Soekarno, yang merupakan tokoh nasional dan proklamator. Sementara itu, Pramono Anung menerima penugasan dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang merupakan putri dari Soekarno.
Presiden Soekarno memilih Ali Sadikin karena menilai Jakarta membutuhkan pemimpin yang berani, tegas, dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan ibu kota yang saat itu masih sangat kompleks. Sementara itu, Megawati Soekarnoputri menunjuk Pramono Anung karena dinilai memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, loyalitas tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, serta kepemimpinan yang matang.













