Kolaborasi Etis dengan Pemangku Adat
Tim riset MoRA LPDP berkolaborasi erat dengan pemangku adat, sesepuh, dan perwakilan Baduy Dalam (Cibeo dan Cikeusik) maupun Baduy Luar (Panamping). Keterlibatan seluruh pihak ini memastikan proses penelitian berjalan secara etis, partisipatif, dan berbasis kearifan lokal.
“Penelitian ini bukan tentang mengambil, melainkan tentang belajar bersama. Kami hadir dengan sikap hormat untuk mendokumentasikan warisan leluhur yang masih hidup,” ujar Prof. Dr. Lilis Sulastri, ketua tim peneliti.

Empat Fokus Kajian Utama
Riset ini memusatkan perhatian pada empat aspek kunci ketahanan ekologis-pangan berbasis kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat Baduy selama berabad-abad:
- Sistem pertanian huma: Ladang berpindah berbasis rotasi alami yang mempertahankan kesuburan tanah tanpa input kimia, pupuk sintetis, atau praktik pertanian intensif.
- Pengelolaan leuweung titipan: Hutan adat dengan zonasi ketat yang membedakan area konservasi mutlak dari zona pemanfaatan terbatas, mencerminkan prinsip keberlanjutan ekologis.
- Pikukuh sebagai etika yang dihidupi: Aturan adat sakral yang mengatur interaksi manusia-alam melalui larangan (pamali) untuk mencegah eksploitasi berlebihan dan menjaga kohesi sosial.
- Integrasi nilai spiritual dalam praktik ekologis: Filosofi “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat” (menjaga titipan, merawat dunia) yang mencerminkan tanggung jawab lintas generasi.
Temuan awal menunjukkan bahwa ketahanan ekologis-pangan Baduy bukan sekadar hasil praktik teknis, melainkan produk integrasi holistik antara kosmologi spiritual, struktur sosial, dan strategi adaptif yang dikembangkan secara historis.













