Ia mengatakan, Kudatuli bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun, melainkan peringatan agar seluruh elemen bangsa tetap waspada terhadap segala bentuk pembatasan kebebasan berpendapat.
“Kita melangkah maju membangun masa depan yang lebih baik, tetapi tidak melupakan jalan berdarah yang kita lalui. Kita memaafkan luka yang pernah ditorehkan, tetapi tidak melupakan siapa yang berkorban agar kita bisa bernapas lebih bebas hari ini,” ujarnya.
Menurut Ono, demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai hak untuk memilih dalam pemilu, tetapi juga hak masyarakat untuk didengar, menyampaikan pendapat, dan memiliki pandangan berbeda tanpa rasa takut mengalami intimidasi maupun kekerasan.
Ia menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah menjadi solusi dalam menyelesaikan perbedaan pandangan, termasuk apabila dilakukan oleh pihak yang sedang memegang kekuasaan.













