Bandung, BEDAnews
Konferensi Asia – Afrika (KAA) tahun 1955 adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi warga kota Bandung dan bangsa Indonesia, serta bangsa-bangsa Asia-Afrika pada umumnya karena menjadi simbol perlawanan terhadap imperialisme.
“Melalui Konfrensi Asia-Afrika merupakan bentuk penegasan, komitmen, penghilangan penjajahan, atau perlakuan yang bersifat rasis, hal itulah yang menjadikan inspirasi bagi negara negara di Asia, Afrika, serta Amerika Latin,” demikian dikatakan Wakil Walikota Bandung, Ayi Vivananda saat membacakan sambutan opening ceremony peringatan 58 tahun KAA, Kamis (18/04) di kawasan Gedung Merdeka, jl. Cikapundung Timur Bandung.
Dikatakan Ayi, kegiatan ini mengingatkan kembali nilai-nilai perjuangan bangsa-bangsa terjajah dalam meraih kemerdekaan, ia berharap nilai-nilai dan semangat Konfrensi Asia Afrika dapat meng-inspirasi generasi sekarang untuk tetap mengaktualisasikannya dalam kerangka mewujudkan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan.
Kegiatan KAA yang melibatkan sekitar 10 ribu orang dan akan digelar selama tujuh hari di Kota Bandung pada 18-24 April 2013 mendatang tersebut, ditandai dengan penaikan bendera 29 negara peserta tahun Konferensi Asia Afrika oleh Pramuka Kota Bandung, kemudian bersama Wakil Walikota Bandung, Kepala Museum KAA, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, para diplomat perwakilan negara-negara Asia Afrika memukul gong sebagai tanda membuka rangkaian ceremony peringatan.
Kepala Museum KAA, Thomas Ardian Siregar, mengatakan peringatan ini ditujukan untuk terus mengobarkan semangat Bandung, semangat kesetiakawanan, keperdulian terhadap sesama, serta perdamaian dunia.
“Dengan tema Celebrating Together in Peace, kita mengajak masyarakat Kota Bandung khususnya, Jawa Barat dan Nasional pada umumnya serta sahabat sahabat negara-negara asia afrika mengobarkan semangat Asia-Afrika, tidak kurang 10.000 personel terlibat terdiri dari staf museum KAA, klub-klub budaya, para relawan, serta kwartir Pramuka Kota Bandung,” paparnya.
Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Abdurrahman M. Fachir, mengatakan semangat dari Dasa Sila Bandung dalam upaya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dianggap masih relevan.
Membebaskan dari penjajahan, menciptakan perdamaian, dan ikut mensejahterakan masyarakat dunia, tentu saja semangat ini harus kita pelihara, kita dengungkan, dan kita perjuangkan, hingga di negara -negara lain semangat ini tetap ada, katanya. (Bd)











