Pesan tersebut terasa semakin kuat karena disampaikan di tengah perjalanan pendakian. Gunung menjadi ruang pembelajaran bahwa ilmu dan hafalan tidak cukup hanya disimpan, tetapi harus menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan.
Pendakian juga mengajarkan kesabaran. Sebagaimana seorang pendaki harus melangkah setahap demi setahap untuk mencapai puncak, demikian pula seorang penghafal Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan dan istiqamah dalam menjaga hafalan.
Momentum tausiyah di puncak Sindoro sekaligus memperkuat pesan SAPALA bahwa aktivitas pecinta alam dan pendidikan keagamaan dapat berjalan beriringan. Alam menjadi ruang tadabbur, sedangkan perjalanan menjadi sarana melatih akhlak dan ketangguhan diri.
*Kemerdekaan dengan Menempa Diri*













