Dar Edi Yoga, seorang aktivis Gereja Katolik dan pemerhati dialog lintas iman, memberikan apresiasi tinggi terhadap gestur tersebut.
Menurutnya, tindakan Menag Nasaruddin Umar menunjukkan wajah agama yang lembut dan rendah hati.
Penghormatan kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut diartikan sebagai pengakuan universal bahwa pemimpin agama adalah pelayan kemanusiaan yang harus saling menghargai kebijaksanaan dan dedikasi satu sama lain.
Lebih lanjut, penyalaan Lilin Perdamaian di Roma tersebut dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap kegelapan prasangka dan kekerasan.
Di saat dunia mengalami krisis teladan, keberanian Menag RI untuk menunjukkan sikap santun dan penuh kasih dianggap sebagai pengingat bahwa iman sejati tidak lahir untuk memisahkan, melainkan untuk menyatukan umat manusia dalam kerja nyata bagi perdamaian.Pesan moral yang dibawa Indonesia melalui momen ini sangat kuat: keberagaman bukanlah sebuah ancaman.











