Nah, supaya gak bulak-balik, akhirnya kami ajak Brata sebagai salah satu tim perumus kurikulum Safari Jurnalistik yang baru. Dan kepalang bersama, waktu Brata menawarkan villa munggil miliknya di daerah Puncak sebagai tempat pembahasan, langsung kami terima. Jadilah kami menginap semalam dua hari di villa Brata.
Pembahasan soal kurikulum Safari Jurnalistik ternyata tidak berlangsung lama, karena sudah ada persamaan persepsi di antara kami. Selebihnya kami bicara intens berbagai soal. Walaupun yang paling senior, Pak Bekti sama sekali tidak menempatkan diri orang yang paling tahu, karena selalu mau mendengar kami. Sampai kini hasil rumusan kurikulum yang kami buat bersama Brata dengan sponsor Nestle masih dipakai PWI, setidaknya sekitar 90 persenan dari kurikulum itu. Banyak pengurus dan anggota PWI tak memahami hal ini, sehingga melupakan faktor sejarahnya.













