Bandung, BEDAnews-
Ada perasaan miris dan haru saat Sabtu (9/8) malam seorang ibu bernama Melsonny Sugenina warga Desa Cilame Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat, yang berprofesi sebagai tukang pijat menumpahkan keluh kesahnya atas musibah yang menimpa anaknya.
Dengan wajah sendu dan mata berlinang, dia memulai perbincangan malam itu. Bersama tiga anaknya, Nina sapaan akrab Melsonny Sugenina, saat ini tinggal di rumah kontrakan di Desa tersebut. Anak pertamanya, sebuat saja Bunga adalah seorang gadis berusia 26 tahun yang menderita Autis. Layaknya anak kecil, hanya dua kata yang bisa diucapkannya, "makan" dan "minum". Selama hidupnya Bunga tidak pernah keluar rumah. Hari-harinya banyak dihabiskan di kamar tidur. Perempuan berkulit kuning langsat ini tidak pernah kontak dengan orang lain, apalagi seorang pria.
Diapun berkisah, dadanya terasa sesak, saat suatu hari mengetahui anaknya hamil, yang diduga akibat tindakan tidak senonoh seorang pria yang tidak dikenal. Persaaan haru, kecewa dan geram menghantui Nina selama berbulan-bulan. Singkat cerita, suatu hari dia merasa heran dengan perubahan fisik yang ada pada anak sulungnya itu karena sudah beberapa bulan tidak juga haid, lalu pada 27 Februari 2014 atau saat usia kehamilan Bunga menginjak bulan keenam. Dia lalu melakukan tes kehamilan, benar saja, hasil tes menunjukkan Bunga positif hamil. “Saya menduga anak pertama saya diperkosa seseorang, lalu hal itu saya laporkan pada Polres Cimahi pada 24 Maret 2014 supaya menyelidiki dugaan perbuatan tidak senonoh pada anak saya, “ katanya sambil berlinang.
Selain melapor pada Polisi, Nina pun meminta bantuan kepada Pemkab Bandung Barat untuk meminta bantuan untuk melakukan test DNA bayi yang dilahirkan Bunga, dan lima orang pria di lingkungannya yang diduga dan dicurigai sebagai pelaku tidak senonoh kepada anaknya itu, supaya bisa memastikan siapa ayah sang bayi yang dilahirkan Bunga. Namun, pihak Pemkab Bandung Barat menyatakan tidak memiliki anggaran untuk membiayai test DNA yang diminta Nina. Hal itu membuat Nina kecewa. Kabar kehamilan anaknya itu akhirnya merebak dilingkungan warga, apalagi setelah peristiwa yang menimpa anaknya itu terekspos dibeberapa media. Usai ekspos media, lalu sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Bandung Barat datang ke rumahnya dan menyatakan siap untuk membantu apa yang menimpa anak sulungnya itu.
Dia melanjutkan, sejak menyampaikan laporan kepada Polres Cimahi Maret lalu, beberapa kali dia menanyakan kepada salah seorang petugas di Polres Cimahi yang ditugaskan menangani kasus ini, namun hingga kini belum mendapatkan kabar berita kelanjutannya. Hanya satu kali saja dia mendapatkan surat dari Polres Cimahi setelah Nina lapor. “ setelah mendapatkan surat pertama, sekarang saya belum mendapatkan informasi lagi sudah sampai sejauhmana perkembangan kasusnya, ,” sebutnya.
Menyikapai proses yang sedang dilakukan oleh Polres Cimahi tersebut, Nina berpikir positif saja, karena dia tahu saat ini pihak kepolisian sedang sibuk menjaga situasi keamanan usai pelaksanaan Pemilu Presiden, dia pun akan menunggu bagaimana sikap yang dilakukan Polres Cimahi hingga pekan ini. Dia berharap, test DNA ini tetap dilakukan untuk mengetahui siapa pelaku dugaan tidak senonoh pada anaknya, karena apa yang menimpa kepada anaknya merupakan perbuatan yang harus dibuktikan di pengadilan. “Jika dalam pekan ini tidak ada perkembangan juga saya berencana melapor lagi ke Polda Jabar “ tegas Nina.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Cimahi AKP Suparma dalam surat tertanggal 25 Maret 2014 mengungkapkan, pihaknya telah menerima laporan yang disampaikan Nina dan menyampaikan laporan perkembangan hasil penelitian terlapor. Dalam surat tersebut, Suparma menyatakan dalam 14 hari akan melakukan penyelidikan, jika diperlukan perpanjangan waktu penyelidikan akan diberitahukan perkembangannya. “kami sudah menerima laporan saudari Nina dan akan memberitahukan perkembangan selanjutnya,” tulis AKP Suparma dalam surat bernomor B/272/III/2014/Reskrim itu.
Apa yang menimpa Nina, mendapat simpati Penasehat Komunitas Tangan Bersatu Masline Nababan. Menurutnya, apa yang menimpa Nina dan keluarganya ini harus mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Sumbangsih saran pemikiran akan sangat membantu bagi Nina dan keluarganya , dia pun merasa heran dengan sikap warga yang belum serius membantunya. “saya menghimbau kepada semua pihak untuk tergerak hatinya atas permasalahan yang menmpa ibu Nina ini,” tuturnya malam itu.
Disisi lain, Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Bandung Barat (KBB), dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat (P2TP2A) KBB sudah berusaha membantu keluarga ini, sebelum Bunga melahirkan, dan akan melakukan tes deoxyribonucleic acid (DNA) untuk mengungkap pria yang tega menghamili Bunga.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada BP3AKB Kabupaten Bandung Barat, Nur Djulaeha mengungkapkan, Tes DNA merupakan jalan terakhir apabila upaya yang sekarang sedang berjalan tidak membuahkan hasil.”Pemda dan aparat kepolisian sudah merencanakan musyawarah dengan berbagai pihak, Apabila upaya musyawarah tidak membuahkan hasil, baru kami fasilitasi untuk tes DNA. Jadi sebenarnya kami tidak melakukan pembiaran,” kata Nur kepada wartawan.. (bun)











