“Bismillah alhamdulillah maaf teman-teman saya mendahului”, gumam Eko saat hendak minum minuman terlezat yang pernah dirasakan.
Waktu terus berjalan. Sementara ia hanya diberi waktu 2 jam dan harus segera kembali ke kapal. Mau bicara langsung minta bantuan logistik masih belum punya keberanian. Sang Danrem sama sekali tak bergeming dengan isyarat pembicaraan secara halus kalau dirinya butuh bantuan rangsum.
Di saat-saat genting seperti itu, datanglah seorang perwira pejabat keuangan yang masuk ruangan. Berbeda dengan Dandim, perwira tersebut langsung mengerti. Dibekalinya Eko uang sebesar Rp 25.000 yang saat itu termasuk jumlah yang amat besar mengingat gaji Eko masih sekitar Rp 91.000 an.
Tanpa menunggu lama, berpacu dengan waktu, uang tersebut dibelikanlah nasi padang. Ia begitu ingat teman-temannya yang kelaparan. Dengan menumpang motor dan membawa tentengan nasi padang, sang pengendara motor pun ngebut menuruti perintah Eko yang harap-harap cemas ditinggal kapal dan pasukan.













