Ia mencontohkan masih adanya praktik sosial dan budaya yang dapat melukai martabat manusia. Salah satunya ketika perempuan tidak memperoleh hak waris dari orang tuanya dalam lingkungan budaya tertentu. Menurut Kardinal Suharyo, praktik semacam itu perlu dilihat secara kritis karena berpotensi menjadi bentuk luka terhadap kemanusiaan.
Nilai berikutnya adalah tanggung jawab bersama dalam mewujudkan kesejahteraan. Kehidupan sosial, kata dia, tidak dapat dibangun jika setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Kesejahteraan bersama membutuhkan keterlibatan seluruh komponen bangsa.
Kardinal Suharyo juga menyoroti kesenjangan antara kelompok yang kuat dan yang lemah. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi dalam masyarakat, tetapi juga dalam hubungan antarnegara. Karena itu, solidaritas menjadi nilai penting agar kekuatan tidak digunakan untuk merendahkan atau melemahkan pihak lain.













