Kisah Ny. Eka menjadi gambaran humanis tentang bagaimana pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Dari keterampilan yang diwariskan keluarga, lahir kreativitas. Dari kreativitas, tumbuh kemandirian. Dan dari dukungan organisasi, tumbuh keberanian untuk melangkah lebih jauh. Dalam konteks itulah Persit menunjukkan perannya, bukan semata sebagai pendamping, melainkan juga sebagai penggerak perubahan yang memberi nilai tambah bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, Sasirangan bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya, sumber inspirasi, sekaligus harapan yang dirajut dengan tangan-tangan telaten. Melalui karya seperti yang dilakukan Ny. Eka Burhannudin, tradisi tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, melainkan terus hidup, berkembang, dan memberi makna bagi masa kini. (Pen Pusziad)













