Ketertarikan Ny. Eka terhadap Sasirangan tidak sekadar lahir karena kedekatan keluarga dengan kerajinan tersebut. Ia juga terpikat oleh keindahan kain khas Banjar itu, terutama karena setiap motif mengandung makna dan nilai budaya. Bagi dirinya, Sasirangan bukan hanya tekstil tradisional, melainkan warisan yang memuat cerita, filosofi, dan kebanggaan daerah.
Dalam proses pembuatannya, Sasirangan menuntut ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Setiap helai kain dijahit dengan teknik jelujur untuk membentuk motif, kemudian melalui proses pewarnaan, termasuk dengan bahan alami, yang menghadirkan corak memikat dan khas. Dari proses yang cermat itulah lahir kain-kain bernilai seni tinggi, yang kemudian dikembangkan menjadi beragam produk seperti pakaian pria dan wanita, tas, hingga aksesori. Sasirangan, dengan demikian, tidak hanya hadir sebagai simbol budaya, tetapi juga menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.













