Ia menilai, pentingnya reposisi HR untuk merespon tren tersebut dengan mengadopsi paradigma HR sebagai strategic partner. HR tidak hanya merekrut, tetapi ikut merancang budaya kerja yang adaptif dan selaras dengan visi organisasi. HR menjadi jembatan komunikasi antara manajemen dan karyawan, terutama dalam menjembatani gap antar-generasi yang kian terasa di tempat kerja. Dari millennial hingga Gen Z, tiap generasi membawa cara kerja, harapan dan nilai berbeda dan peran HR bukan sekadar menengahi, tapi menghubungkan dan menciptakan ruang kolaborasi.
“Organisasi yang mampu mempertahankan talenta terbaik bukanlah yang paling banyak menggunakan teknologi, tapi yang mampu mengkombinasikan teknologi dengan empati, data dengan intuisi, dan efisiensi dengan ownership. AI adalah alat bantu, bukan penentu. Dan HR yang dilengkapi dengan dukungan alat yang tepat, akan tetap menjadi pengambil keputusan utama dalam membentuk tim yang tidak hanya produktif, tapi juga selaras dengan arah dan nilai perusahaan,” imbuhnya.













