“AI mempercepat proses seleksi, sementara manusia memastikan kesuksesan jangka panjang melalui penilaian budaya dan adaptasi, sehingga proses ini disempurnakan oleh kombinasi kecerdasan buatan dan sentuhan manusia,” jelasnya beberapa waktu.
Susanto merujuk pada trend banyaknya perusahaan global di AS, Eropa dan Asia yang mulai mengintegrasikan pendekatan hybrid dalam proses rekrutmen, dengan menggabungkan AI untuk penyaringan awal dan keterlibatan manusia pada tahap evaluasi akhir. Model ini terbukti meningkatkan efektivitas seleksi sebesar 25% dan kepuasan perekrut mencapai 70%.
“Teknologi bisa menyaring ratusan CV dalam hitungan detik, tetapi siapa yang benar-benar akan bertahan dan berkembang, tetap membutuhkan analisis yang tak bisa didigitalkan. Penilaian tentang kecocokan budaya, dinamika tim dan soft skill, seperti empati, kemampuan adaptasi, atau kemampuan belajar sebenarnya masih menjadi wilayah yang sepenuhnya human-centered,” ujarnya.













